IDENTITAS
PENULIS
Nama:
Nur Lina Amalia Huda
Nim:
133411042
Kelas:
PBI- 6B
Mahasiswa
semester 6 Pendidikan Bahasa Inggris UIN Walisongo Semarang. Artikel ini dibuat
guna memenuhi tugas MID Semester Mata Kuliah Islam Budaya Jawa, dosen pengampu:
M. Rika Chamami, M.Si. Artikel tentang kunjungan ke Museum Ronggowarsito
Semarang (Jl. Abdul Rahman Saleh no. 1 Kalibanteng Kulon, Semarang Barat,
Semarang)
Mencintai Sejarah Harmonisasi Budaya Jawa Islam Nusantara
Oleh : Nur Lina Amalia Huda
Bangsa yang besar adalah bangsa yang
tak pernah melupakan sejarah bangsanya. Kita semua tentu sudah tak asing dengan
ungkapan tersebut. Bahwasanya memang benar betapa pentingnya sejarah suatu
bangsa. Sejarah merupakan pelajaran dari masa lalu yang akan memberikan
pelajaran yang sangat berharga bagi suatu bangsa, asal usul suatu bangsa.
Sejarah merupakan hal yang menyenangkan dan menarik untuk dipelajari.
Tak hanya melulu berkutat dengan naskah yang tertulis dalam berbagai buku
sejarah, namun belajar sejarah bisa dari mana saja. Salah satu cara
menyenangkan untuk mempelajari sejarah adalah dengan mengunjungi museum. Selain
menambah wawasan dan kecintaan kita pada sejarah bangsa kita sendiri
mengunjungi museum dapat dijadikan sebagai salah satu saran wisata edukatif. Sangat
disayangkan anak muda masa kini kurang terlalu tertarik untuk mengunjungi
museum atau tempat-tempat bersejarah bangsanya sendiri.
Pada perkuliahan semester saya yang keenam ini, saya mendapatkan
mata kuliah Islam Budaya Jawa yang diampu oleh Bapak M. Rikza Chamami.Beliau
memberikan sebuah gagasan untuk perkuliahan diluar ruangan yang cukup menarik. Saya
dan teman- teman diminta untuk mengunjungi museum Ronggowarsito di Semarang. Pada
hari Minggu, tanggal 24 April 2016 kita berangkat mengunjungi Museum
Rongowarsito.
Museum Ronggowarsito diresmikan pada tanggal 5 Juli 1989 dan telah memiliki
sekitar 59784 koleksi, beberapa diantar koleksinya merupakan barang peninggalan
sejarah Budaya Jawa. Museum ini terletak di Jl.Abdul Rahman Saleh no. 1
Semarang Barat, Semarang, Jawa Tengah. Museum ini diresmikan dengan nama Museum
Negeri Provinsi Jawa Tengah oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu
Prof. DR. Fuad Hassan. Nama Ronggowarsito sendiri diambil dari nama seorang
pujangga besar budaya Jawa dari Keraton Kasunanan Surakarta, Raden Ngabehi
Ronggowarsito. Arsitektur museum ini sendiri sangat kental dengan budaya Jawa,
bentuk bangunan museum ini berbentuk seperti Joglo yang mana merupakan rumah
adat Jawa Tengah. Museum ini berdiri diatas lahan seluas dua hektar, memiliki
empat gedung utama yang masing-masing berlantai dua.
Museum Ronggowarsito tercatat telah memiliki koleksi sekitar 50.000 banyaknya. Koleksi-koleksi tersebut
ditata rapi mengisi tiap sudut ruang di setiap gedung museum. Beberapa diantara
koleksinya merupakan barang peninggalan kebudayaan Jawa Tengah. Selain koleksi
barang peninggalan budaya Jawa Tengah, museum ini juga memiliki koleksi dari
sejarah Indonesia lainnya, mulai dari zaman kolonial sampai zaman kemerdekaan
Indonesia. Maka dari itu, museum ini memiliki koleksi yang cukup lengkap. Museum
ini juga dilengkapi beberapa replika peristiwa peritiwa penting dalam sejarang
Indonesia seperti replika pertempuran yang dipimpin Jendral Sudirman dan juga
beberapa replika sejarah beberapa pertempuran Indonesia.
Cerminan dari keharmonisan Budaya Jawa dan islam juga ada dalam
koleksi museum Ronggowarsito. Salah satunya dapat kita lihat pada replika
menara masjid Kudus yang terdapat di museum ini. Jelas sekali Nampak corak
budaya Hindu yang kental dari gaya arsitektur menara Kudus ini. Selain itu juga
ada wayang kulit. Wayang kulit konon merupakan sarana dakwah yang dipakai Sunan
Kalijaga pada saat meyebarkan Islam di tanah Jawa. Guna menarik minat warga
Jawa yang saat itu masih memegang teguh ajaran dan budaya Hindu pada saat itu,
Sunan Kalijaga menggelar pertunjukan wayang kulit, dan dalam setiap
pagelarannya beliau memasukkan unsur-unsur dakwah Islam kedalamnya.
Pada dasarnya Budaya Jawa merupakan hasil akulturalisasi dari
beberapa budaya. Dikarenakan begitu banyak etnis yang tinggal di Pulau Jawa
sendiri. Sehingga budaya- budaya tersebut pasti akan saling bersinkretis dan
menyebabkan semakin beragamnya budaya Jawa. Pentingnya kita mempelajari sejarah
kebudayaan bangsa kita sendiri adalah agar kita semakin bijaksana dalam
menerima perbedaan dan keberagaman yang ada dalam budaya kita. Walaupun kota
tidak sama bukan berarti kita tidak bisa hidup berdampingan dengan damai. Seperti
semboyan Bhineka Tunggal Ika yang kita anut selama ini, semboyan tersebut bukan
berarti tidak berarti apa- apa. Semboyan dari leluhur tersebut mengandung
amanat dan pesan mendalam bagi kita agar tetap menghormati segala perbedaan yang
ada dalam budaya bangsa kita agar kita menjadi bangsa yang bijaksana.