Rabu, 04 Mei 2016

Mencintai Sejarah Harmonisasi Budaya Jawa Islam Nusantara

IDENTITAS PENULIS
Nama: Nur Lina Amalia Huda
Nim: 133411042
Kelas: PBI- 6B
Mahasiswa semester 6 Pendidikan Bahasa Inggris UIN Walisongo Semarang. Artikel ini dibuat guna memenuhi tugas MID Semester Mata Kuliah Islam Budaya Jawa, dosen pengampu: M. Rika Chamami, M.Si. Artikel tentang kunjungan ke Museum Ronggowarsito Semarang (Jl. Abdul Rahman Saleh no. 1 Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Semarang)
Mencintai Sejarah Harmonisasi Budaya Jawa Islam Nusantara
Oleh : Nur Lina Amalia Huda
            Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan sejarah bangsanya. Kita semua tentu sudah tak asing dengan ungkapan tersebut. Bahwasanya memang benar betapa pentingnya sejarah suatu bangsa. Sejarah merupakan pelajaran dari masa lalu yang akan memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi suatu bangsa, asal usul suatu bangsa.
Sejarah merupakan hal yang menyenangkan dan menarik untuk dipelajari. Tak hanya melulu berkutat dengan naskah yang tertulis dalam berbagai buku sejarah, namun belajar sejarah bisa dari mana saja. Salah satu cara menyenangkan untuk mempelajari sejarah adalah dengan mengunjungi museum. Selain menambah wawasan dan kecintaan kita pada sejarah bangsa kita sendiri mengunjungi museum dapat dijadikan sebagai salah satu saran wisata edukatif. Sangat disayangkan anak muda masa kini kurang terlalu tertarik untuk mengunjungi museum atau tempat-tempat bersejarah bangsanya sendiri.
Pada perkuliahan semester saya yang keenam ini, saya mendapatkan mata kuliah Islam Budaya Jawa yang diampu oleh Bapak M. Rikza Chamami.Beliau memberikan sebuah gagasan untuk perkuliahan diluar ruangan yang cukup menarik. Saya dan teman- teman diminta untuk mengunjungi museum Ronggowarsito di Semarang. Pada hari Minggu, tanggal 24 April 2016 kita berangkat mengunjungi Museum Rongowarsito.
Museum Ronggowarsito diresmikan pada tanggal 5 Juli 1989 dan telah memiliki sekitar 59784 koleksi, beberapa diantar koleksinya merupakan barang peninggalan sejarah Budaya Jawa. Museum ini terletak di Jl.Abdul Rahman Saleh no. 1 Semarang Barat, Semarang, Jawa Tengah. Museum ini diresmikan dengan nama Museum Negeri Provinsi Jawa Tengah oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu Prof. DR. Fuad Hassan. Nama Ronggowarsito sendiri diambil dari nama seorang pujangga besar budaya Jawa dari Keraton Kasunanan Surakarta, Raden Ngabehi Ronggowarsito. Arsitektur museum ini sendiri sangat kental dengan budaya Jawa, bentuk bangunan museum ini berbentuk seperti Joglo yang mana merupakan rumah adat Jawa Tengah. Museum ini berdiri diatas lahan seluas dua hektar, memiliki empat gedung utama yang masing-masing berlantai dua.
Museum Ronggowarsito tercatat telah memiliki koleksi sekitar  50.000 banyaknya. Koleksi-koleksi tersebut ditata rapi mengisi tiap sudut ruang di setiap gedung museum. Beberapa diantara koleksinya merupakan barang peninggalan kebudayaan Jawa Tengah. Selain koleksi barang peninggalan budaya Jawa Tengah, museum ini juga memiliki koleksi dari sejarah Indonesia lainnya, mulai dari zaman kolonial sampai zaman kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu, museum ini memiliki koleksi yang cukup lengkap. Museum ini juga dilengkapi beberapa replika peristiwa peritiwa penting dalam sejarang Indonesia seperti replika pertempuran yang dipimpin Jendral Sudirman dan juga beberapa replika sejarah beberapa pertempuran Indonesia.
Cerminan dari keharmonisan Budaya Jawa dan islam juga ada dalam koleksi museum Ronggowarsito. Salah satunya dapat kita lihat pada replika menara masjid Kudus yang terdapat di museum ini. Jelas sekali Nampak corak budaya Hindu yang kental dari gaya arsitektur menara Kudus ini. Selain itu juga ada wayang kulit. Wayang kulit konon merupakan sarana dakwah yang dipakai Sunan Kalijaga pada saat meyebarkan Islam di tanah Jawa. Guna menarik minat warga Jawa yang saat itu masih memegang teguh ajaran dan budaya Hindu pada saat itu, Sunan Kalijaga menggelar pertunjukan wayang kulit, dan dalam setiap pagelarannya beliau memasukkan unsur-unsur dakwah Islam kedalamnya.

Pada dasarnya Budaya Jawa merupakan hasil akulturalisasi dari beberapa budaya. Dikarenakan begitu banyak etnis yang tinggal di Pulau Jawa sendiri. Sehingga budaya- budaya tersebut pasti akan saling bersinkretis dan menyebabkan semakin beragamnya budaya Jawa. Pentingnya kita mempelajari sejarah kebudayaan bangsa kita sendiri adalah agar kita semakin bijaksana dalam menerima perbedaan dan keberagaman yang ada dalam budaya kita. Walaupun kota tidak sama bukan berarti kita tidak bisa hidup berdampingan dengan damai. Seperti semboyan Bhineka Tunggal Ika yang kita anut selama ini, semboyan tersebut bukan berarti tidak berarti apa- apa. Semboyan dari leluhur tersebut mengandung amanat dan pesan mendalam bagi kita agar tetap menghormati segala perbedaan yang ada dalam budaya bangsa kita agar kita menjadi bangsa yang bijaksana.